buahnaga.jpg
Pada saat puncak musimnya, harga buah naga akan menukik terjun bebas. Buah membanjiri pasar. Dalam keadaan seperti ini, tengkulak dan konsumen hanya mau membeli buah naga yang berukuran jumbo saja. Buah naga yang kecil-kecil akan disisihkan ke dalam keranjang buah afkir. Biasanya, buah naga grade A yang ukurannya paling besar di tingkat petani hanya dihargai sekitar Rp 5.000/kg. Yang kecil-kecil nyaris tak berharga. Inilah yang kemudian membuat para petani buah naga berlomba-lomba memperbesar buah dengan berbagai cara.
Di daerah saya, sebagian besar buah naga dipasok dari Banyuwangi. Saya tidak tahu betul bagaimana praktik budidaya buah naga di kalangan petani di sana. Tapi saya mengamati buah-buah naga jumbo yang banyak beredar di pasar hanya menang di ukuran tapi kualitasnya cenderung tidak bagus.
Dugaan saya, ini efek pemakaian hormon giberelin yang disertai pemberian pupuk kombinasi berisi kalium dan nitrogen dosis tinggi. Buah naga jumbo di pasaran bobotnya mencapai hampir 800 gram. Bahkan ada yang mencapai 1 kg. Tapi meningkatnya ukuran buah ini biasanya diikuti dengan turunnya kualitas buah secara umum. Salah satu kualitas yang mudah sekali diamati adalah daya simpannya yang buruk. Jika dibiarkan beberapa hari saja tanpa dimasukkan ke dalam kulkas, buah naga jumbo ini mudah membusuk. Padahal sejatinya buah naga tidak semudah itu membusuk. Saya sampai berpikir, jangan-jangan buah naga ini di-Ethrel. Jika buah naga saja sampai di-Ethrel, berarti pertanian kita masih sangat jauh dari pertanian sehat.
Buah naga pada dasarnya gampang sekali perawatannya. Tanpa bahan kimia sedikit pun hasilnya bisa berkualitas A. Foto di samping adalah buah naga yang ditanam secara 100% organik di daerah Solokuro, Lamongan. Kelihatannya jenis Super Red. Lahan tanamnya berupa tanah berkerikil yang kalau dicangkul akan merusak mata cangkul. Pupuk yang digunakan hanya kotoran kambing. Tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali. Berat rata-rata masih bisa mencapai 450 gram. Cukup besar untuk masuk grade A.
Rasanya pun lebih manis. Sekitar 2 briks lebih tinggi daripada rata-rata buah naga di pasar induk. Rasa manis ini tampaknya disebabkan oleh empat faktor utama: varietasnya, jenis tanahnya, iklim yang panas, dan kondisi buah yang dipetik dalam keadaan matang sempurna, yang ditandai dengan merekahnya ujung buah.
Daya simpan buah organik ini juga jauh lebih bagus. Kalau dibiarkan begitu saja di luar kulkas, buah naga organik ini tidak membusuk. Hanya kulitnya yang mengering dan kisut sampai rupanya jelek sekali tapi rasanya semakin manis.
Kelebihan lain buah naga organik adalah efek terhadap kesehatan. Buah ini biasa dijadikan oleh para lansia sebagai obat “crekot-crekot”. Ini istilah orang kampung untuk menyebut gangguan nyeri yang dialami lansia jika salah makan, yang kemungkinan besar adalah gejala nyeri asam urat. Efek pereda crekot-crekot ini hanya mereka dapatkan dari buah naga organik, dan tidak mereka dapatkan dari buah naga yang berasal dari pasar induk.
Pada sebagian orang yang saluran cernanya sensitif, buah naga dari pasar induk bahkan bisa menyebabkan diare. Tapi buah naga organik tidak. Ini adalah beberapa efek pembesaran buah secara kimia yang mungkin tidak diketahui oleh sebagian besar konsumen.
Pembesaran buah dengan cara pemberian pupuk nitrogen dosis tinggi juga biasa dilakukan oleh sebagian besar (=tidak semua) petani melon, seperti di sebagian daerah Lamongan yang merupakan sentra melon Golden Apollo. Sebagaimana buah pada umumnya, melon Apollo dihargai berdasarkan ukurannya, selain tentu saja tingkat kemanisnya serta kemulusan kulitnya. Buah grade A (yang bobotnya di atas 1,3 kg) harganya sekitar Rp 2.000 lebih mahal daripada grade B (yang bobotnya 1,0-1,3 kg); dan Rp 4.000 lebih mahal daripada grade C.
Untuk memperoleh harga tinggi, petani tak jarang menggenjot penggunaan pupuk nitrogen, tak terkecuali pada musim hujan. Padahal mestinya pada masa ini penggunaan pupuk nitrogen dikurangi. Hasilnya, buah memang besar-besar. Tapi kualitas secara umum biasanya akan menurun. Rasanya kurang manis dan daya simpannya kurang bagus. Buah mudah busuk padahal melon Apollo yang sehat seharusnya bisa tahan sampai satu bulan.
Penggunaan pupuk nitrogen dosis tinggi pada umumnya juga akan membuat tanaman lebih rentan terhadap penyakit. Ini akan membuat tanaman harus disemprot lebih banyak pestisida. Artinya, manfaat buah sebagai makanan sehat akan jauh menurun. Padahal melon aslinya adalah obat hipertensi yang baik sebagaimana buah keluarga Cucurbitacea yang lain.
Disukai atau tidak, itulah fakta pertanian kita. Petani terdorong untuk membesarkan buah sebesar mungkin walaupun itu tidak natural dan merugikan kesehatan. Mereka melakukannya karena memang tengkulak lebih menghargai buah yang besar. Tengkulak melakukan itu karena konsumen memang lebih menghargai buah yang jumbo. Jadi, ini semua memang bermula dari konsumen yang tidak tahu (dan tidak mau tahu) mengenai efek pembesaran buah terhadap kualitas, nilai gizi, dan risiko kesehatannya.
Obsesi terhadap buah jumbo tampaknya telah menjauhkan pertanian kita dari sistem budidaya yang sehat.
Advertisements