14898416_1588816034760742_2597967164400588028_n

Pepaya membutuhkan pupuk kandang yang sangat banyak. Repotnya, akar pepaya sangat manja, hanya mau menerima pupuk yang sudah matang alias sudah terurai dan siap diserap nutrisinya. Padahal kebanyakan pupuk kandang yang tersedia biasanya belum cukup matang.

Kalau akar pepaya bertemu dengan pupuk yang belum matang, pohon akan langsung stres. Jika pohonnya masih kecil, pepaya bisa mati pelan-pelan. Saya sering sekali menjumpai kasus ini. Kalau pohonnya sudah besar lalu bertemu kohe (kotoran hewan) yang belum matang, pucuknya akan mengkerut abnormal lalu bunganya rontok. Karena alasan inilah, kita harus hati-hati menggunakan pupuk kandang. Usahakan hanya menggunakan pupuk kandang yang sudah matang.

Ada banyak cara untuk mengolah pupuk kandang, mulai dari yang sangat rumit, rumit, sampai yang gampang. Berikut saya urutkan caranya berdasarkan cara yang paling gampang.

1. Cara gampang (buat petani yang tidak suka tantangan)

Cara ini cocok untuk sebagian besar petani yang tak mau susah-susah. Selama ini petani tidak punya kebiasaan mematangkan pupuk kandang. Cara yang biasa mereka lakukan hanya membiarkan kotoran ternak teronggok begitu saja di kandang selama beberapa bulan. Begitu musim tanam tiba di awal penghujan, kotoran itu mereka gunakan untuk menanam cabai atau jagung dengan cara diletakkan begitu saja di lubang tanam, tak peduli apakah pupuk itu sudah matang atau belum.

Cara seperti ini tidak boleh diterapkan pada pepaya. Kalau cuma dibiarkan teronggok tanpa perlakukan apa-apa beberapa bulan, ada kemungkinan kohe belum matang. Kohe seperti ini tidak boleh diletakkan di lubang tanam yang persis akan ditanami bibit pepaya. Akar pepaya yang masih muda tidak boleh bersentuhan langsung dengan kohe yang belum matang.

Untuk menghindari ini, kohe sebaiknya dipendam di dalam tanah pada jarak sekitar 50 cm dari bibit. Kalau tanahnya rutin disiram, kohe yang terpendam di dalamnya akan lebih cepat terurai daripada dibiarkan teronggok di kandang. Seiring dengan usia tanam, akar pepaya akan makin panjang. Ketika akar mencapai kohe tersebut, kemungkinan besar kotoran itu sudah lapuk dan tidak menyebabkan pohon menjadi stres.

2. Cara fermentasi (buat petani yang suka tantangan)

Cara ini agak rumit tapi hasilnya lebih bagus daripada cara pertama. Untuk melakukannya, kita membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut:
– Pupuk kandang 1 ton
– Sekam (kulit padi) 2 karung (bekas wadah pupuk 50 kg)
– EM4 satu botol (mudah didapat di toko-toko pertanian, harganya sekitar Rp 20 ribu)
– Tetes tebu (molase) sebanyak 2 botol bekas Aqua besar (bisa dibeli di toko-toko pertanian atau toko pakan ternak seharga Rp 7 ribu per botol)
– Air satu drum

Cara:

– Aduk sekam dan kohe hingga merata
– Encerkan EM4 dengan sekitar 50 liter air dan 2 botol tetes tebu
– Percikkan larutan EM4 encer itu secara merata ke adonan kohe sampai menjadi basah. Tingkat kebasahannya cukup lembap saja seperti kohe itu selesai dikukus. Kalau masih kurang lembap, perciki dengan air dan aduk-aduk rata.
– Setelah semua kohe lembap, tutup dengan terpal lebar atau masukkan kohe ke dalam karung-karung lalu taruh di tempat yang teduh, misalnya di bawah pohon besar atau di naungan gubuk.
– Biarkan selama satu sampai dua bulan. Proses fermentasi akan ditandai dengan suhu hangat di kohe. Adanya sekam akan menjaga kelembapan kohe sekaligus memberi ruang bernapas bagi bakteri pengurai.
– Setelah dua bulan, suku kohe biasanya sudah mendingin, bentuknya agak lapuk, mudah diremas dengan tangan. Setelah teksturnya seperti ini, barulah kohe siap digunakan untuk menanam pepaya.
– Waktu fermentasi selama dua bulan ini pas dengan masa menunggu bibit pepaya, mulai dari persemaian hingga bibit siap tanam. Jadi, kita menyiapkan pupuk bersamaan ketika kita menyiapkan bibit.
– Meski pupuk ini sudah relatif lebih matang, sebaiknya tetap jangan dipendam persis di tempat tanam bibit pepaya. Tetap beri jarak sekitar 20 cm untuk jaga-jaga, mungkin sebagian kohe masih belum matang. Jangan terlalu mengkhawatirkan bibit pepaya. Saat pepaya masih kecil, kebutuhan pupuknya belum begitu banyak. Bibit pepaya lebih membutuhkan penyiraman daripada pupuk.
– Kalau masih harus diberi jarak dari akar pepaya, lalu apa gunanya pupuk difermentasi lebih dulu? Selain pupuk lebih cepat terurai, adanya bakteri EM4 akan membuat tanah lebih subur sekaligus bisa meminimalkan kemungkinan serangan bakteri jahat.
– Kalau ingin manfaat pupuk lebih baik lagi, kita bisa menambahkan sebungkus Trichoderma ke dalam ramuan di atas. Trichoderma adalah jamur baik yang bisa mencegah serangan jamur penyebab akar busuk atau pathek (antraknosa). Harganya sekitar Rp 50 ribu sebungkus, yang bisa digunakan untuk fermentasi kohe 1 ton. Tapi cara ini mungkin sulit dilakukan petani kebanyakan karena Trichoderma lebih sulit didapat daripada EM4. Sebagian besar toko pertanian di desa-desa biasanya tidak menjual jamur ini.
– Kalau ingin tantangan lebih rumit lagi, EM4 bisa kita ganti dengan ragi dari sisa nasi. Di internet, ragi nasi ini biasa disebut MOL (mikro organisme lingkungan atau mikro organisme lokal). Cara membuat MOL bisa dicari di internet.
– Jangan terpaku pada cara yang saya contohkan. Ini hanya contoh yang saya lakukan dan saya ajarkan kepada petani mitra saya. Masih banyak cara lain. Pilih yang sesuai dengan kondisi di lahan Anda.
– Foto di samping adalah kotoran kambing yang sudah matang. Teksturnya lembut, bisa diremas sampai hancur. Kebetulan kohe ini berasal dari kandang kambing tanpa panggung. Jadi, bentuknya tidak bulat-bulat tapi hampir halus karena setiap hari diinjak-injak dan dikencingi oleh kambing. Karena kohe sudah bercampur dengan remah-remah daun dan ranting, saya tidak menambahkan sekam lagi. Tinggal disiram MOL lalu dikarungi.

 

Advertisements