14937187_1587575028218176_6636539969418800865_n

Berapa jarak tanam yang pas untuk pepaya Calina? Panduan dari IPB hanya memberi pedoman kasar: 2,2 x 2,5 meter.

Saya pribadi tidak menggunakan patokan angka tetap ini. Besarnya jarak tergantung kondisi lahan. Contoh, di tanah merah, tanah berpasir, atau jenis tanah yang tidak bisa menyimpan air dan tidak memerlukan guludan, jarak tanam cukup 2 x 2 meter sebab tidak ada guludan.

Jika lahannya tanah merah tapi berbatu-batu besar, jarak tanam 2,5 x 2,5 meter. Adanya batu-batu besar membuat wilayah perakaran menjadi berkurang. Jadi, jatah tanah untuk masing-masing pohon harus ditambah. Kalau lubang tanamnya persis di dekat batu besar atau bekas pangkal pohon besar, maka lubang tanam itu tidak perlu dihitung alias dibiarkan saja.

Saya mengamati, petani punya kecenderungan “eman-eman” yang salah kaprah. Prinsip mereka, tanah sejengkal pun harus ditanami, tak peduli jarak tanam menjadi terlalu dekat. Bahkan ketika lubang tanam berada di bawah naungan pohon besar seperti jati pun, mereka tetap menanaminya. Ini adalah kesalahan umum petani pepaya pemula.

Bagaimanapun, setiap tanaman punya hak terhadap tiga hal: pupuk, air, dan sinar matahari. Kalau pepaya ditanam di tempat yang tidak mendapat cukup sinar matahari, buahnya akan kecil-kecil, lama sekali matangnya. Ketika matang, rasa manisnya pun tidak akan optimal. Buah seperti ini sulit dijual. Jadi, percuma menanam pepaya di tempat seperti ini. Karena itu saya menganjurkan, jarak antara pepaya dengan tanaman besar minimal 4 meter.

Kalau pepaya ditanam terlalu rapat, katakanah jarak antar pohon kurang dari 2 meter, maka buahnya akan kecil-kecil. Batang pepaya juga akan cenderung langsing tinggi karena daunnya berebut sinar matahari. Karena pohonnya tinggi, pemetikan buah menjadi lebih sulit. Perlu diketahui, toko maupun konsumen lebih suka 1 buah pepaya seberat 1,2 kg daripada 2 buah pepaya yang masing-masing bobotnya 7 ons (total 1,4 kg). Satu buah besar lebih bagus daripada dua buah kecil. Lebih baik jumlah pohon pepayanya sedikit tapi buahnya besar-besar daripada jumlah pohonnya banyak tapi buahnya kecil-kecil.

Foto di samping adalah pepaya yang ditanam di lahan guludan cabai yang tidak digulud ulang. Semua guludan ditanami pepaya, tidak diberi jeda. Akibatnya jarak antarpohon menjadi sangat rapat. Pohonnya tinggi-tinggi karena berebut sinar matahari. Buahnya kecil-kecil. Untuk memperbesar buah, pemupukan kimia digenjot. Tapi akibatnya fatal. Setelah dipupuk kimia dosis tinggi, buah memang membesar tapi tanaman menjadi rentan terhadap penyakit. Awalnya hanya daun puret. Ini masih bisa tertolong dengan pestisida. Tapi kemudian disusul antraknosa, sampai kemudian infeksi fatal layu bakerti. Akhirnya, wassalam. Sesal kemudian tiada berguna.

Maka saran saya kepada petani pepaya pemula, jangan terlalu “kikir” terhadap tanaman. Tiap pohon pepaya punya hak tanah untuk perakaran selebar paling tidak 4 sampai 5 meter persegi. Jangan dikurangi. Pepaya juga punya hak terhadap sinar matahari. Kalau lahannya ternaungi pohon besar, pepaya jangan ditanam di situ.

Jangan lupa pula, akar pepaya sangat panjang. Lebih dari dua meter. Pepaya yang berdekatan dengan lahan tetangga akarnya pasti akan merebut pupuk milik tetangga. Jadi, beri jarak minimal 2 atau 3 meter dari pematang lahan. Boleh saja ditanam dekat pematang tapi jangan lupa memberi pepaya matang kepada tetangga minimal seminggu sekali 😀

Advertisements