14947909_1587563398219339_2100457550321977517_n

Di pasar, pepaya Calina yang lonjong lebih disukai konsumen daripada yang bulat. Rasanya sebetulnya sama. Hanya saja Calina lonjong rongganya lebih kecil sehingga lapisan dagingnya lebih tebal. Sementara yang bulat rongganya lebih besar sehingga dagingnya lebih tipis.

Pepaya lonjong berasal dari bunga sempurna (hermaprodit). Sementara buah bulat berasal dari bunga betina. Benih Calina IPB berisi campuran antara tanaman yang lonjong dan bulat. Saya tidak pernah menghitung persentasenya secara teliti tapi jumlah betinanya sangat signifikan. Mungkin hampir mencapai perbandingan 2 lonjong : 1 bulat.

Kalau Anda menanam pepaya lalu menjualnya di toko milik sendiri seperti saya, buah lonjong atau bulat tak masalah karena toh dua-duanya laku walaupun memang yang lonjong lebih disukai konsumen. Tapi kalau Anda menanam Calina untuk ditawarkan kepada bakul, lebih baik menanam yang lonjong saja. Kebanyakan bakul tidak menyukai pepaya bulat. Kalaupun dibeli, biasanya harganya lebih murah sekitar Rp 500 sampai 1.000/kg.

Supaya pepaya bisa lonjong semua, satu lubang tanam sebaiknya ditanami tiga bibit. Minimal dua. Setelah berbunga, sekitar bulan keempat, pilih tanaman hermaprodit (lonjong) saja. Tebang yang betina. Kalau kita menanam dua bibit di tiap lubang, ada kemungkinan dua-duanya betina. Tapi kalau kita menanam tiga bibit di tiap lubang tanam, kemungkinan besar salah satunya adalah hermaprodit.

Cara melihat jenis kelamin bunganya sangat gampang. Cukup dengan melihat bentuknya. Bunga betina bentuknya seperti mata bor. Badannya gemuk lalu ujungnya meruncing dan membentuk ulir. Adapun bunga hermaprodit bentuknya langsing panjang. Kalau ingin lebih pasti, ambil satu bunganya, lalu buka kelopaknya. Bunga betina hanya memiliki putik, calon pentil buah yang berwarna putih. Sementara bunga sempurna (lonjong) selain memiliki putik juga memiliki benang sari yang warnanya kuning, mengelilingi putik.

Berdasarkan pengamatan saya, benih yang cepat berkecambah dan cepat subur di polibag pada umumnya adalah bibit betina. Sementara benih yang berkecambah belakangan dan lambat tumbuh di polibag padaumumnya adalah bibit hermaprodit. Saya belum menemukan referensi ilmiah mengenai hal ini. Di pedoman dari IPB pun tidak ada. Tapi dari pengamatan saya, juga pengamatan para pembibit pepaya, teori ini cukup membantu untuk memilih pepaya lonjong. Memang tingkat ketepatannya tidak bisa 100% dan belum ilmiah tapi layak dicoba.

Kalau Anda ingin menguji kebenaran teori ini, pisahkan bibit yang kecambahnya muncul duluan dan cepat subur. Bibit yang bertunas belakangan dan kurang subur letakkan di tempat terpisah. Pisahkan lahan tanamnya. Beri tanda. Pada saat nanti berbunga, amati dan ukur tingkat kebenaran teori ini.

Pada awal musim panen, pepaya betina menghasilkan buah yang besar-besar. Banyak di antaranya yang bobotnya mencapai 2 kg. Tapi setelah empat bulan musim petik, buahnya akan mulai berkurang drastis. Kalaupun masih berbuah, buahnya kecil-kecil. Ini berbeda dengan pepaya lonjong yang produktivitasnya stabil. Ini adalah alasan lain kenapa kita sebaiknya menanam yang lonjong saja.

Kalau kita mengisi satu lubang tanam dengan tiga bibit, memang kita akan menghabiskan banyak modal di awal. Tapi besarnya modal ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan hasil panen nanti. Jadi, sebaiknya jangan pelit bibit saat awal tanam. Sebagian petani merasa sayang menebang pohon pepaya karena harganya mahal. Ini cara pandang yang keliru sebab kalau pepaya kita banyak yang bulat, produktivitasnya akan cepat menurun setelah empat bulan panen.

Advertisements