14370077_1571377716504574_2502284528443218336_nDulu waktu awal menanam Calina, saya diberi tahu kawan, ada jenis pepaya lain yang, katanya waktu itu, kualitasnya lebih bagus daripada Calina, yaitu Red Lady buatan pabrik Known You Seed. Knwon You adalah salah satu pabrik benih terkemuka asal Taiwan. Benih-benih buatannya banyak yang menjadi juara di kelasnya, misalnya melon dan semangka.

Red Lady, kata kawan saya itu, lebih manis daripada Calina, ukuran buah lebih besar, dagingnya masih sangat kenyal walaupun kulit buah sudah jingga 100% di pohon. Mendengar deskripsi ini, siapa yang tidak tergoda? Maka saya pun mencari benihnya di toko pertanian terdekat. Ternyata ada. Berarti pepaya ini memang cukup terkenal. Harganya sekitar Rp 1.000 per biji, kemasan isi 50 biji. Lebih mahal daripada Calina yang harganya sekitar Rp 400 per biji.

Saya mencoba menyemai satu bungkus. Ternyata daya tumbuhnya bagus sekali, 100%. Ini lebih baik daripada Calina, yang berdasarkan pengalaman saya sekitar 85%. Di polibag, Red Lady juga cepat besar. Tidak ada satu pun yang layu. Ini berbeda dengan Calina, yang kalau medianya terkontaminasi jamur, bibitnya sering tiba-tiba layu di polibag (istilahnya, “rebah semai”). Dugaan saya, benih Red Lady sudah diberi fungsida.

Pada saat ditanam di lahan, pohon Red Lady juga cepat bongsor. Pada usia yang sama, pohonnya lebih tinggi daripada Calina. Pohonnya mirip pepaya Bangkok. Buahnya memang besar-besar. Yang lonjong, buah awal banyak yang mencapai 3 kg.

Pada Calina, kalau kulit buah sudah ada yang semburat kuning sedikit saja, itu berarti buah sudah siap dipetik. Tapi Red Lady tidak demikian. Masa siap petiknya adalah ketika semburat jingga sudah merata di semua sisi. Proses meratanya semburat Red Lady bisa berhari-hari, hingga sampai dua minggu. Beda dengan Calina yang hanya butuh waktu beberapa hari, dihitung sejak munculnya semburat pertama.

Ucapan kawan saya memang benar. Warna jingga Red Lady lebih cantik daripada Calina. Walaupun kulitnya sudah jingga semua, dagingnya masih kenyal. Rasanya juga lebih manis, mungkin 1 brix di atas Calina. Selain itu, Red Lady juga punya aroma khas kates matang. Saya pribadi menyukai aroma seperti ini karena membuat rasanya lebih segar. Tapi rupanya konsumen di daerah saya tidak menyukai aroma seperti ini. Mereka lebih menyukai Calina yang tidak ada baunya.

Kelebihan lain, pohon Red Lady lebih tahan kering daripada Calina. Di lahan yang sama, di musim kemarau, ketika bunga Calina rontok karena kepanasan, bunga Red Lady masih bisa menjadi buah. Sehingga ketika saya tidak panen Calina, saya masih bisa panen Red Lady.

Sayangnya, di samping beberapa kelebihan di atas, Red Lady ternyata juga punya beberapa kekurangan, yang tidak diceritakan oleh kawan saya. Pertama soal kerentanan terhadap tanah basah. Red Lady memang lebih tahan di musim kemarau, tapi kurang tahan di musim hujan ketika tanah terlalu basah. Akarnya mudah busuk kalau tanah terlalu basah. Ketika akarnya busuk, buah masih kelihatan seperti sehat tapi rasanya tidak begitu manis.

Kekurangan lain, getah Red Lady sangat banyak. Jauh lebih banyak daripada Calina. Kalau dipetik ketika warnanya masih dominan hijau, buahnya tidak bisa langsung dimakan karena getahnya sangat banyak. Ini beda dengan Calina, yang meskipun baru dipetik, langsung bisa dirujak karena getahnya tidak begitu banyak. Pada musim penghujan, getah Red Lady akan lebih banyak lagi. Getah bahkan keluar dengan sendirinya lewat kulit yang terluka akibat gesekan dan benturan sesama kates. Kalau selama satu jam saja tangan kita terkena getah Red Lady, tangan bisa melepuh sebab akibat enzim papain di getah.

Kekurangan lain, Red Lady betina dagingnya tipis. Lebih tipis daripada Calina betina. Sebagian besar konsumen tidak menyukai ini. Bentuk bulatnya juga lebih bulat nyempluk daripada Calina sehingga persentase rongga buahnya lebih besar. Ini beda dengan Calina, yang bentuk buah betinanya bulat lonjong dan lebih menarik. Red Lady yang lonjong juga tidak bisa lonjong peluru seperti Calina. Lonjongnya mirip pepapa Bangkok dengan pinggul besar dan ujung lancip.

Pada pohon yang sangat sehat, bentuk buah lonjongnya memang bisa bagus dan simetris. Kalau dipetik dengan kematangan pas, pada saat semua sisinya sudah semburat jingga, Red Lady tampak lebih menggoda daripada Calina. Tapi kalau tanaman kurang sehat, lonjongnya jadi tidak beraturan dan tidak simetris. Ini menyebabkan bentuknya kurang menarik. Ini beda dengan Calina, yang walaupun pohonnya kurang sehat dan ukuran buanya mengecil, bentuk lonjongnya masih bisa simetris.

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan di atas, saya menyimpulkan, secara umum Calina IPB masih lebih unggul daripada Red Lady. Yang saya bandingkan ini adalah Red Lady dan Calina yang saya tanam di lahan yang sama, umur sama, perlakukan sama, dipetik pada tingkat kematangan dan kekenyalan yang sama-sama optimum. Tentu tidak adil kalau membandingkan dua tanaman dengan perlakuan yang beda. Calina yang dirawat dengan baik tentu rasanya akan lebih manis daripada Red Lady yang kurang perawatan. Penilaian saya bahwa Red Lady lebih manis bukan karena Calina kurang pupuk kalium.
Walaupun saya lebih mengunggulkan Calina, tidak berarti Red Lady tidak layak dikebunkan. Di tengah dominasi Calina, pasti ada segmen pasar khusus yang lebih menyukai Red Lady karena rasanya yang lebih manis dan beraroma. Seperti saya pribadi yang lebih suka rasa dan aroma Red Lady daripada Calina. Hanya saya, selera saya tidak mewakili selera umum.

Sebetulnya mungkin kurang fair membandingkan Calina dan Red Lady karena keduanya beda kelas. Mungkin yang lebih tepat adalah membandingkan Calina dengan Orange Lady, yang juga buatan Known You Seed, dan bentuknya mirip Calina. Tapi saya tidak bisa membandingkannya karena saya belum pernah menanamnya. Kebetulan benihnya juga tidak tersedia di toko di daerah saya. Tampaknya masih kalah terkenal dari Red Lady.

Ini sekadar berbagi pengalaman. Saya tidak mengiklankan Calina, juga tidak ada urusan dengan Known You Seed. Hanya berbagi saran buat petani pepaya pemula, kalau memilih bibit, jangan cuma membandingkan kelebihannya saja. Usahakan memperoleh perbandingan dalam hal kekurangannya. Saya dulu tertarik mencoba menanam Red Lady karena cerita kawan saya. Tapi setelah menanam sendiri dan mengetahui kelebihan dan kekurangannya, sekarang saya tidak menanam lagi Red Lady karena konsumen di tempat saya hanya menerima Red Lady yang lonjong sempurna dan grade A. Yang bulat sulit sekali dijual. Sementara yang Calina masih laku, baik lonjong maupun bulat, baik grade A, B, maupun C.

Banyak bibit alternatif lain dari Calina. Kalau kita mau fair membandingkannya, kelebihan dan kekurangannya harus dibahas. Sebagai contoh, kawan saya menanam pepaya California yang bibitnya dia beli dari salah satu pembibit kates di kabupaten tetangga. Bibit yang dijual sudah siap tanam, bukan dalam bentuk benih. Kelebihan yang sangat tampak jelas, persentase buah bulatnya sangat sedikit. Mungkin hanya sekitar 5-10%. Tapi rasanya kurang manis jika dibandingkan dengan Calina. Mungkin kalah sekitar 1 brix.

Advertisements