15073405_1594757354166610_4210185540814825310_nPepaya butuh sangat banyak pupuk kandang, apalagi kalau kita mau menanam secara organik atau semi-organik. Panduan dari IPB menyarankan pemberian pupuk dasar (pupuk awal pada saat menanam) sebanyak 20 kg per pohon! Sekali lagi, dua puluh kilo untuk masing-masing pohon!

Kalau kita menanam pepaya seratus pohon saja, berarti kita membutuhkan pupuk sekitar dua ton! Ini baru kebutuhan saat awal tanam. Setelah itu, pohon harus dipupuk lanjutan sebanyak kira-kira 4 kg per bulan! Ini masih harus ditambah pupuk kimia. Kawan saya yang biasa menanam melon pun nggumun tak percaya ketika saya tunjukkan pedoman IPB.

Menurut saya, angka ini memang terlalu besar untuk petani kebanyakan. Hanya petani makmur yang bisa melakukannya. Saya sendiri tidak sanggup melakukannya. Apalagi model yang saya terapkan adalah kemitraan alias mengajak petani menanam. Karena keterbatasan pupuk kandang, saya pun berkompromi. Kepada petani, saya menyarankan pupuk dasar sebanyak satu timba yang biasa digunakan untuk wadah adukan cor bangunan. Beratnya mungkin hanya sekitar 3 kg. Berdasarkan pengalaman saya, hasilnya sudah cukup bagus. Kalau kita bisa menyediakan pupuk sebanyak yang disarankan oleh IPB, tentu hasilnya akan lebih bagus lagi.

Saya sudah mencoba tiga jenis kohe, yakni kohe sapi, kambing, dan ayam. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Berdasarkan pengalaman saya, yang paling bagus hasilnya adalah kohe kambing. Tanaman lebih awet subur, buahnya juga lebih manis.

15078949_1594757704166575_6759251759548143401_n

1. Kohe Sapi

Kohe ini punya beberapa kelebihan. Kohe sapi paling banyak tersedia di kalangan petani. Satu ekor sapi bisa menghasilkan kohe yang setara dengan belasan ekor kambing. Untuk kebun pepaya yang luas, kohe sapi paling cocok. Harganya juga murah. Cocok buat petani yang tak punya ternak sendiri. Di tempat saya, pemilik sapi sering memberikan cuma-cuma kohe sapi kepada petani yang membutuhkan. Tapi kohe kambing tidak. Biasanya kohe ini dijual borongan. Satu gerobak cikar (pedati) kohe kambing harganya sekitar Rp 200-300 ribu.

Kelebihan lain, kohe sapi lebih cepat matang dan teksturnya lebih gembur daripada kohe kambing. Cocok untuk menyemai bibit. Kalau pada saat menyemai kita menggunakan kohe kambing yang teksturnya masih padat, kemungkinan gagalnya lebih besar karena kecambah pepaya sulit menembus permukaan media semai yang padat.

2. Kohe Kambing

Ini kohe yang saya sarankan buat petani karena punya banyak kelebihan. Kelebihannya, kohe kambing lebih tahan lama. Pada saat diberikan ke tanaman, kohe kambing memang tidak bisa memberikan efek seketika. Efek suburnya mungkin baru kelihatan satu bulan kemudian. Tapi efek ini bisa bertahan lebih lama, hingga beberapa bulan kemudian.

Nutrisi kohe kambing lebih padat. Menurut literatur yang pernah saya baca, dibanding kohe sapi, kohe kambing mengandung unsur P dan K lebih tinggi. Kedua unsur ini adalah nutrisi penting buat pepaya. Kalau pepaya kekurangan dua unsur ini, kembangnya akan rontok. Karena unsur K pada kohe kambing lebih tinggi, buahnya pun akan lebih manis.

3. Kohe Ayam

Saya tidak menyarankan kohe ini. Berdasarkan pengamatan saya, kohe ini lebih banyak mendatangkan masalah. Dulu saya mencoba pupuk ini karena membaca salah satu postingan di grup APPI yang bilang kohe ayam adalah pupuk kandang yang paling menyuburkan. Saya bahkan ingat, postingan itu disertai gambar pohon berkayu (seingat saya pohon jati emas, bukan pepaya) yang dipupuk dengan kohe ayam.

Tanaman itu memang subur sekali. Ini wajar karena kohe ayam mengandung nitrogen cukup tinggi. Nutrisi pada kohe ayam juga sangat cepat diserap oleh tanah karena teksturnya halus, tidak padat seperti kohe kambing. Tanaman pepaya pun akan cepat sekali subur kalau dipupuk dengan kohe ayam. Tapi pepaya jelas sangat berbeda dari tanaman berkayu. Kesehatan pepaya tidak bisa diukur hanya dari kesuburan daunnya. Yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan adalah daya tahan pepaya terhadap penyakit. Berdasarkan pengamatan saya, pepaya yang dipupuk kohe ayam memang sangat subur tapi lebih rentan terhadap penyakit. Bagi saya yang tidak suka dengan pestisida, ini faktor nomor satu. Soal kesuburan, itu nomor dua. Makanya saya menyarankan petani untuk menghindari kohe ayam.

Masalah lain, ayam sangat rentan dengan infeksi bakteri. Itu sebabnya peternakan ayam biasanya banyak menggunakan antibiotik. Bisa saja di antara bakteri itu adalah bakteri yang merugikan buat pepaya. Apalagi kohe ayam biasanya dikeringkan dengan bantuan sekam yang sangat banyak. Sekam ini pada musim penghujan bisa mendatangkan masalah di akar pepaya. Sekam mudah sekali menyimpan air dan karena itu menyebabkan tanah lebih mudah jamuran. Denga berbagai kekurangan itu, saya tidak menyarankan penggunaan kohe ayam di kebun pepaya.

Tapi sekali lagi, pertimbangan ini lebih banyak didasarkan pada eksperimen saya sendiri, bukan pada literatur. Kalau ada pengalaman dan pendapat lain, monggo dibagikan.

Foto pertama adalah contoh pepaya yang sangat subur. Tanaman seperti ini memang sangat menyenangkan. Sore-sore ke pergi ke kebun memandang pepaya subur seperti ini membuat hidup terasa tenteram 😀Tapi saya pribadi tidak begitu menyukai pepaya yang sangat subur. Saya pribadi lebih suka pepaya yang tahan lama, bisa berbuah terus tanpa diserang penyakit seperti di foto kedua, walaupun tidak begitu subur.

Advertisements