14462951_1574295236212822_7622331328425595049_n

Saya baru menekuni hobi bertanam dua tahun belakangan. Kesan saya, dunia perbuahan kita awut-awutan. Saya sudah berkali-kali tertipu saat membeli bibit tanaman. Pernah membeli bibit jambu air yang katanya Citra, tapi setelah ditunggu setahun ternyata buahnya bukan Citra. Padahal saya membelinya di toko Trubus. Pernah juga beli bibit jambu biji yang katanya muanis tapi begitu berbuah ternyata rasanya asem sekali.

Terakhir, saya ketipu lagi saat beli bibit pisang yang kata penjualnya adalah pisang Cavendish hasil bibit kultur jaringan. Saya membelinya di sebuah toko tanaman yang cukup besar di Puspa Agro Sidoarjo. Klaim “kultur jaringan” membuat saya dengan mudah percaya saja waktu itu. Logika saya, bibit ini pasti dihasilkan dari laboratorium pembibitan yang terpercaya. Tidak mungkin kultur jaringan dilakukan oleh tukang tanaman pinggir jalan.

Ketika membeli bibitnya, saya membayangkan buahnya seperti pisang Cavendish yang biasa saya lihat di toko-toko swalayan. Warna kulit kuning, daging manis, kulit tebal, dan awet. Tapi setelah menunggu satu setengah tahun, ternyata buahnya tidak sesuai harapan. Ternyata buahnya berkulit hijau. Sampai matang tetap hijau. Yang lebih mengesalkan, buah mudah sekali protol dari tangkainya. Buah perdana memang sangat besar. Satu tandan isi 8 sisir, beratnya sampai 20 kilo. Tapi karena mudah protol dan cepat busuk, kualitasnya mengecewakan.

Dari grup Facebook Komunitas Hortikultura Indonesia, saya jadi tahu bahwa yang mengalami ini bukan saya saja. Sudah banyak korbannya. Bahkan, petani buah kawakan Pak Halm Ttang juga mengalaminya. Sayangnya, Pak Halm Ttang tidak mendokumentasikan pengalamannya ini lalu mempublikasikannya di internet yang mudah diakses para petani pemula seperti saya. Dulu waktu awal browsing mencari bibit pisang Cavendish, saya tidak menemukan cerita seperti ini.

Belakangan saya baru tahu bahwa di kabupaten saya, dulu pada masa Presiden Habibie dan Menteri Koperasi Adi Sasono, pernah ada program penanaman pisang Cavendish yang terintegrasi dengan tambak dan peternakan ayam. Program ini diberi nama keren seperti makanan Korea: TAMYAMSANG, singkatan dari Tambak, Ayam, dan Pisang. Karena program ini skala besar, pasti pembibitannya saat itu juga menggunakan sistem kultur jaringan.

Program ini tidak berhasil. Saya tidak tahu penyebabnya. Tapi sebagian petani masih punya pohon pisang “Cavendish” itu. Mereka menyebutnya Capendis. Dan, buahnya sama dengan pisang saya. Menurut mereka, Capendis tidak begitu laku. Masih kalah dibandingkan dengan pisang ijo kampung yang juga sama-sama mudah protol kalau matang.

Yang membuat saya heran seheran-herannya adalah, bagaimana mungkin penipuan ini berlangsung hampir tiga puluh tahun dan nyaris tidak ada yang meributkannya. Kalau itu dianggap sebagai kekeliruan, kenapa bisa berlangsung puluhan tahun? Logika awam saya, harusnya pihak pembibit kultur jaringan ini diberi sanksi. Dan semua bibit Cavendish abal-abal ini diganti namanya sesuai dengan induk yang dipakai untuk kultur jaringan.

Saya amati di internet ada sangat banyak penjual bibit pisang Cavendish, bahkan ada yang memajang foto buah Cavendish milik Sunpride. Kalau Anda petani pemula dan membayangkan Cavendish supermarket seperti saya dulu, saran saya, jangan mudah percaya penjual bibit tanaman sebelum melihat buahnya langsung di pohon.

Daripada membayangkan Cavendish, lebih baik menanam pisang lain saja. Pak Halm Tang menyarankan pisang raja bulu, yang di kampung disebut “pisang raja” saja tanpa embel-embel. Saya pribadi lebih menyarankan pisang kepok kuning/merah. Pertimbangan saya, harga jual pisang ini sama mahalnya dengan pisang raja. Tapi pohonnya lebih tahan kering. Bobot per tandan juga lebih berat, bisa sampai belasan kilo. Di daerah saya, satu tandan pisang kepok kuning/merah rata-rata harganya lebih tinggi daripada satu tandan pisang raja.

Buat yang belum tahu pisang kepok kuning/merah, pisang ini bentuknya mirip pisang kepok biasa (kepok putih). Bedanya, kepok putih bentuknya pipih panjang, sementara kepok kuning/merah biasanya lebih gemuk. Daging buahnya saat matang berwarna kuning. Ada juga yang warnanya jingga (orang kampung menyebutnya “merah”). Harga kepok merah sedikit lebih mahal. Rasanya juga sedikit lebih enak. Pisang ini sudah lama ditanam di kampung-kampung walaupun populasinya masih sedikit. Konsumen juga sudah mengenalnya. Jadi, untuk sementara lupakan Cavendish kalau tidak ingin ketipu.

Mudah-mudahan sharing ini bermanfaat buat petani pemula. Jika ada yang punya kenalan atau akses ke laboratorium yang membuat kultur jaringan Cavendish, mohon sampaikan komplain dan aspirasi saya ini. Kasihan petani. Mereka tidak punya suara. Bahkan sekadar komplain pun tidak bisa.

Komentar atas tulisan ini bisa dilihat di halaman FB pepaya organik lamongan.
Advertisements