14962800_1589866251322387_8708478440943108487_n
Pepaya tumpang sari dengan timun.

Tanaman apa yang cocok untuk tumpang sari dengan pepaya? Ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan tumpang sari pepaya dengan tanaman lain.

1. Pilih tanaman yang umurnya pendek, maksimal 4 bulan
Pepaya mulai berbunga di bulan keempat. Begitu mulai berbuah, kebutuhan pupuknya meningkat drastis. Sebisa mungkin, sejak mulai berbuah, pepaya tidak diganggu oleh tanaman tumpang sari lain. Contoh tanaman tumpang sari yang berumur pendek: timun, jagung, kerai, kacang tanah, kacang hijau, kacang panjang, terong. Cabai tidak masuk kategori ini karena umurnya panjang, lebih dari 4 bulan.

Jagung relatif aman ke pepaya tapi tanaman ini bisa membuat pohon pepaya menjadi tinggi langsing sebab pertumbuhan jagung lebih cepat daripada pepaya. Karena kalah berebut sinar matahari, pepaya akan cenderung tumbuh tinggi sehingga buahnya pun lebih tinggi daripada pepaya yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah atau kerai, misalnya. Tapi hasil dari jagung tidak seberapa karena harganya yang selalu murah.

Timun bisa menjadi pilihan. Pertama karena cepat panen, umur 40 hari sudah bisa dipetik. Harganya juga lumayan, lebih bagus daripada jagung. Untuk setiap 100 batang pepaya, timun satu kali tanam bisa menghasilkan sekitar Rp 1 juta. Tapi timun sedikit lebih sulit daripada jagung karena membutuhkan lanjaran (ajir). Timun juga perlu air lebih banyak daripada jagung. Kalau tak punya bambu buat lanjaran, kita bisa menanam kerai, semangka, atau lainnya yang umur panennya pendek.
2. Pilih tanaman yang tidak menularkan penyakit ke pepaya
Saya pernah mencoba tumpang sari pepaya dengan cabai, jagung, kacang tanah, timun, kerai. Semua baik-baik saja kecuali yang tumpang sari dengan cabai. Kebetulan pepaya dan cabai memiliki penyakit yang sama. Yang utama adalah antraknosa (pathek). Cabai yang kena antraknosa bisa menularkan jamur ini ke pepaya dan mengakibatkan buah pepaya kerowak sebelum matang. Cabai juga bisa menularkan penyakit puret akibat kutu trip ke pepaya yang menyebabkan tunas pepaya mengkerut lalu bunganya rontok.

Secara umum, cabai tidak disarankan untuk ditumpangsarikan dengan pepaya. Pedoman dari IPB pun menyarankan demikian untuk menghindari penularan penyakit. Tumpang sari dengan cabai boleh dilakukan kalau lahannya tidak banyak berjamur, misalnya lahan tanah berpasir, tanah berkerikil, atau tanah merah yang tidak menyimpan air. Kalau kita tetap ingin melakukan tumpang sari dengan cabai, kita harus memastikan tidak ada penularan penyakit.

tumpang sari pepaya cabe.jpg
Pepaya tumpang sari dengan cabe.

Caranya, sebelum ditanami, lahan diolah dulu dengan diberi jamur Trichoderma. Ini jenis jamur menguntungkan yang bisa mencegah pertumbuhan jamur yang merugikan seperti antraknosa. Pada saat perawatan, tanaman juga harus rajin disiram dengan bakteri seperti EM4 untuk mencegah penyakit seperti layu bakteri.

EM4 mudah didapat di toko-toko pertanian. Trichoderma agak sulit. Tidak semua toko pertanian menjualnya. Harga di toko biasanya sekitar Rp 50 ribu sebungkus. Jamur ini bisa digunakan untuk mematangkan kotoran hewan yang akan kita gunakan sebagai pupuk dasar. Trichoderma bisa juga dikocorkan seperti EM4. Selain dicegah dengan pemberian Trichoderma, cabai dan pepaya harus rutin disemprot fungisida.

Tapi, sekali lagi, karena cabai berumur panjang, tanaman ini bisa mengganggu pepaya pada usia produktif, jadi tidak disarankan. Masih banyak alternatif tumpang sari yang lain. Foto pertama di atas adalah kebun pepaya berumur dua bulan, tumpang sari dengan timun dan kacang tanah (foto kacang tidak kelihatan). Timun panen lebih awal di usia 1,5 bulan. Setelah timun, giliran panen kacang tanah di usia 3 bulan. Setelah kacang tanah habis, lahan difokuskan untuk pepaya. Sementara foto kedua adalah kebun pepaya tumpang sari dengan cabai. Kebetulan lahannya tanah berkerikil yang tidak mudah jamuran, jadi pepayanya aman dari pathek.

Advertisements