Disclaimer: penulis bukan ahli tanaman, hanya petani yang giat belajar dan berbagi. Mungkin saja paparan ini keliru.
Lunglai.jpg

Pepaya Calina termasuk pepaya yang rentan terhadap penyakit. Penyakitnya buanyak sekali. Ada yang ringan, ada yang berat. Salah satu penyakit yang berat dan mematikan adalah busuk batang. Orang-orang desa menyebutnya “virus”padahal penyebabnya bukan virus. Busuk batang bisa disebabkan oleh jamur, bisa juga oleh bakteri. Dua jenis busuk batang ini pernah menyerbu kebun saya.

Foto di atas adalah kasus tahun lalu, pepaya Calina umur 4,5 bulan, usia berbunga. Masih 100% organik, pupuk dasar kotoran kambing, disiram dengan kocoran fermentasi kotoran kambing dengan gula tetes dan MOL. Menurut banyak referensi, pepaya organik konon lebih tahan penyakit. Tapi rupanya pepaya saya masih sekecil itu sudah terkena penyakit. Gejala awalnya, pucuk tanaman tiba-tiba melengkung. Semua masih segar. Tidak ada daun yang layu atau batang yang kehitaman. Ketika tanaman saya bongkar, akarnya pun masih segar dan kokoh. Tapi lambat laun satu demi satu daun pucuknya menguning. Yang menguning bukan daun tua tapi daun muda.

 

Menurut referensi yang saya baca waktu itu, penyakit ini disebabkan oleh masalah drainase. Tapi penjelasan ini tidak logis untuk kasus tanaman saya. Pertama, karena kebun ini berada di tanah merah yang tidak bisa menyimpan air. Hujan sederas apa pun tidak akan menyebabkan masalah drainase. Alasan kedua, penyakit ini muncul di musim pancaroba ketika musim hujan sudah selesai.

 

Karena saya tidak mengerti ilmu penyakit tanaman, saya hanya bisa menebak-nebak. Dan sepertinya, penjelasan yang paling masuk akal adalah infeksi bakteri, lebih tepatnya bakteri Erwinia. Referensi yang saya pakai:

 

http://www.agriculture.gov.bb/agri/images/stories/food/Food_crop_research/documents/Winning_the_battle_against_Pawpaw_bunchy-toppdf.pdf

 

Terpaksa buka kamus John Echols karena saya tidak puas dengan penjelasan referensi lokal yang kebanyakan bilang karena masalah drainase. Penjelasan referensi ini logis untuk kasus kebun saya. Erwinia bisa ditularkan oleh serangga. Tampaknya ini cocok karena di kebun saya memang banyak serangga yang populasinya meningkat di musim pancaroba.

 

Karena bisa ditularkan oleh serangga, Erwinia bisa menular dalam radius jarak terbang serangga. Penjelasan ini juga cocok. Setelah membaca referensi Erwinia, saya berkeliling ke sekitar kebun dalam radius setengah kilometer. Ternyata memang ada tanaman pepaya milik tetangga yang sudah terkena penyakit ini dalam stadium parah. Pepaya milik tetangga ini bukan Calina tapi pepaya Bangkok yang ditanam di pekarangan rumah. Umurnya sudah setahun, buahnya lebat, tapi daunnya sudah habis menguning.

 

Saya waktu itu menyimpulkan, kebun saya ketularan Erwinia dari pepaya ini. Kebetulan jaraknya hanya seratus meter dari kebun saya. Menurut referensi, pohon yang sakit Erwinia harus dipotong dan dibakar. Tapi tetangga saya tidak mau menebang pohonnya karena merasa sayang dengan buahnya yang mungkin mencapai 20 kilo. Akhirnya, pohon itu saya beli, lalu saya penggal dan jenazahnya saya kremasi.

 

Erwinia adalah bakteri, bukan jamur. Jadi obatnya adalah bakterisida, bukan fungisida. Menurut referensi, kebun yang kena Erwinia harus disemprot dengan bakterisida dan insektisida. Bakterisida untuk membunuh bakterinya, sementara insektisida untuk mencegah penularan oleh serangga. Masalahnya, saya tak suka pakai pestisida karena bermazhab “pestisida kimia hukumnya makruh”.

Waktu itu kebun saya semprot dengan pestisida nabati yang saya buat dari rendaman daun tembakau afkir dan daun mimba. Kebetulan di dekat kebun ada banyak pohon mimba. Tapi rupanya masih ada tanaman yang ketularan. Penularannya cepat sekali. Hampir tiap hari ada yang ketularan. Akhirnya, dengan terpaksa saya menggunakan insektisida yang saya oplos dengan pestisida nabati. Setelah itu, penularan baru berhenti. Saya bahkan lupa merek insektisida yang saya pakai waktu itu, mungkin Curacron. Maaf, saya tidak dibayar Syngenta. Saya kira insektisida merek lain pun bisa dipakai.

 

Setelah melakukan pengamatan sekeliling kebun, saya baru menyadari bahwa di desa itu banyak sekali tanaman pepaya yang kena penyakit ini. Tidak pandang jenis pepayanya. Bahkan pepaya liar yang bandel dan biasanya tahan penyakit pun kena serangan penyakit ini. Di desa sebelah, saya bahkan mendapat cerita dari seorang petani, bahwa dua tahun sebelumnya pernah ada kebun pepaya yang semua pohonnya “mati berdiri”. Dugaan saya, ini adalah serangan Erwinia.

 

Hampir semua pepaya di kebun saya yang terkena Erwinia itu saya bongkar dan saya bakar. Alhamdulillah, kebun masih selamat dan bisa panen. Saya sisakan beberapa batang yang hanya saya potong batangnya sekitar setengah meter diatas tanah untuk tujuan pengamatan. Pada awal tumbuh tunas baru, pucuknya kelihatan masih segar, tapi lambat laun setelah daunnya membesar, tampak gejala layu. Kesimpulan saya, Erwinia tidak bisa diatasi dengan cara potong batang. Kalau sekadar penyakit akibat kutu putih, saya biasa melakukan cara potong batang. Tapi untuk Erwinia ini sepertinya cara potong batang tidak bisa diterapkan.

 

Dalam hal Erwinia, petani tidak boleh ragu menerapkan hukuman mati! Bongkarisida dan bakarisida harus diterapkan sesegera mungkin, yaitu pada saat seperti foto di atas. Terlambat satu hari saja bisa jadi sangat fatal karena akan menyebabkan penularan. Apalagi jika sampai batang tanaman kelihatan membusuk pelan-pelan dari atas ke bawah. Itu sudah stadium empat, sudah mati berdiri.

Kepada petani pepaya pemula, saran saya, sebelum berkebun, pastikan dulu lahannya bukan termasuk daerah langganan Erwinia seperti tempat saya. Cara memastikannya, survei dulu wilayah sekitar lahan, lihat apakah ada pohon pepaya yang mati berdiri. Kalau memang lahan sekitarnya langganan Erwinia, lebih baik cari lahan lain. Sebetulnya kita masih bisa menanam pepaya di lahan seperti itu. Tapi biaya perawatannya jadi sangat tinggi karena kebun harus rajin disemprot pestisida untuk pencegahan.

Advertisements