penyakit.jpg

 

Penyakit ini menyerang di awal tanam. Bibit yang awalnya sehat di polibag, begitu pindah tanam di lahan, daunnya mengering pelan-pelan, lalu mati. Saat dicabut, tampak akarnya sudah putus mengering. Pada kebanyakan kasus, masalah ini biasanya disebabkan oleh pupuk kotoran hewan yang belum matang.

 

Entah bagaimana mekanisme terjadinya, saya tidak begitu paham. Ada yang bilang, kotoran hewan saat mengalami penguraian akan mengeluarkan panas yang membakar akar. Ada yang bilang, kotoran hewan saat mengalami penguraian akan berebut nitrogen dengan akar pepaya sehingga menyebabkan akar sakit. Ada yang bilang, jamur di dalam kotoran itu menginfeksi akar pepaya. Penjelasannya mungkin masih belum begitu terang. Tapi cara penanganannya gampang.

 

Cabut segera tanaman yang layu ini, ganti yang baru. Bongkar dan ambil kembali pupuk kotoran hewan yang dipendam di tanah itu. Isi lubang tanam dengan tanah saja. Pindahkan kohe tersebut, lalu pendam di dalam tanah di sekeliling tananam, dengan jarak sekitar 50 cm dari tanaman. Intinya, untuk sementara jauhkan akar dari kotoran hewan. Nanti, setelah tanaman membesar, akar akan memanjang lalu kembali bersentuhan dengan kohe, tapi pada saat itu kohe sudah matang karena terurai pelan-pelan.

 

Saya mengamati, petani punya kebiasaan meletakkan kohe persis di bagian perakaran utama. Mungkin ini kebiasaan yang terbawa saat memberi kohe di lubang tanam jagung atau cabai. Pepaya mestinya diperlakukan secara berbeda. Kalau kohe sudah matang, memang tak masalah langsung diletakkan di bagian akar. Tapi kalau kohe belum matang, ini bisa jadi masalah.

 

Pada pepaya, kohe tidak perlu diletakkan persis dekat akar sebab akar pepaya sangat panjang, sampai dua meter bahkan lebih. Walaupun diletakkan di jarak 50 cm, nutrisi kohe itu tetap akan bisa dimakan oleh pepaya. Lebih baik, biarkan kohe terurai secara alami di dalam tanah, dan ketika pupuk itu sudah matang, akar pepaya sudah mencapainya.

 

 

Advertisements