Dulu saya mulai menanam pepaya karena hobi bertanam. Waktu itu saya belum punya pengalaman sama sekali berkebun pepaya. Saya belajar menanam dari Grup Assosiasi Petani Pepaya Indonesia (APPI). Tapi belajar di grup ini butuh kejelian tingkat tinggi. Saya mengamati, di grup ini sangat sedikit orang yang mau berbagi ilmu. Yang paling banyak adalah orang yang suka pamer. Ini masih belum seberapa. Lebih menjengkelkan lagi, banyak sekali penjual bibit yang tidak mau berbagi ilmu, dan hanya berjualan saja. Untuk dua jenis orang seperti ini, saya menyaring halaman Facebook dengan fitur “HIDE ALL FROM THIS PERSON”. Buang-buang kuota internet saja.

Singkat cerita, tahun lalu saya mulai menanam. Membeli benihnya sendiri (Calina dari IPB), menyemai sendiri, mencangkul lahan sendiri, memfermentasi pupuk kandang sendiri, merawat sendiri, menyemprot sendiri, menyirami sendiri, mencabuti gulma sendiri. Pendeknya, saya ingin mengalami sendiri menjadi petani pepaya. Hasilnya lumayan bagus. Saat panen pertama tiba, datanglah masalah perkatesan yang pertama. Ketika saya tawarkan ke bakul, dia hanya menghargainya Rp 3.000 per kilo. Padahal istri saya biasa membeli pepaya di tokonya dengan harga 6.000 sampai 7.000 per kilo. Karena saya merasa harga ini tidak adil buat petani, akhirnya pepaya saya jual sendiri di toko kaki lima dengan harga 6.000 per kilo.

Karena saya mengalami sendiri menjadi petani pepaya sekaligus pemilik toko, saya bisa memperkirakan harga yang adil buat petani maupun buat bakul. Harga yang adil itu, menurut saya, di daerah saya, saat itu, adalah Rp 4.000 per kilo di tingkat petani, dengan syarat kualitas buahnya bagus.

Saya mengamati, hubungan antara bakul dan petani adalah masalah besar di dunia perkatesan. Di kecamatan tetangga, saya menjumpai petani yang pepayanya hanya dibeli Rp 2.000 per kilo. Kalau kates dihargai serendah itu di Cilacap, barangkali bisa dimaklumi karena di sana kebun pepaya sudah membludak. Tapi di daerah saya, hingga saat ini, kebun pepaya Calina yang bagus masih sedikit jumlahnya sehingga mestinya harganya lebih bagus daripada di Cilacap atau Ciamis.

Maka saran saya kepada para petani pepaya pemula, sebelum berkebun sebaiknya survei pasar lebih dulu. Kalau harga pepaya Calina di tingkat petani sudah sedemikian rendah, sebaiknya lupakan pepaya. Masih banyak tanaman lain yang bisa dipilih. Petani sejak awal harus menyadari bahwa posisi tawar bakul lebih tinggi daripada petani. Suka atau tidak suka, ini harus disadari, apalagi kalau nanti makin banyak yang menanam pepaya. Jangan sampai kecewa belakangan. Lain soal kalau petani mau menjual sendiri hasil kebunnya seperti saya.

Cara paling aman, cari mitra yang bisa diajak saling percaya. Bakul hanya bisa diajak untung bersama, tapi tak mungkin mau rugi bersama. Yang kita perlukan adalah mitra, yang mau berbagi untung dan rugi. Kalau ada juragan penjual bibit yang bilang kemitraan tapi tidak mau rugi bersama petani, itu namanya “bandar”, bukan mitra. Kalau bibit harus beli dari juragan, pupuk harus beli, obat harus beli, lalu buahnya harus dijual ke juragan dengan harga yang ditentukan oleh juragan, buat saya itu bukan kemitraan tapi perjanjian jual beli. Tidak ada sistem bagi hasil di situ.

Menurut saya, sistem kemitraan adalah sistem yang paling adil buat petani maupun bakul. Saya sendiri, setelah punya toko, menjalin kemitraan dengan beberapa orang yang memang saya kenal baik, yang bisa saling percaya. Jangan bayangkan kemitraan saya ini skala besar. Hanya kemitraan skala beberapa ratus pohon karena memang ini kemitraan petani kecil, bukan pekebun besar. Caranya: petani saya beri benih Calina IPB satu bungkus isi 250 biji, saya beri polibag, saya ajari menyemai, saya ajari menanam dan merawat tanaman, saya beri obat-obat penting dan pupuk-pupuk penting yang tidak dimiliki petani kebanyakan. Waktu panen, saya beli buahnya. Saat ini, harga kemitraan dengan skema itu adalah Rp 3.500 per kilo, pukul rata, lonjong maupun bulat, dengan syarat kualitas buahnya bagus. Sekali lagi, ini program kemitraan kecil buat orang-orang yang saya kenal. Bukan undangan kemitraan bagi petani di APPI.

Dalam kemitraan ini, petani saya ajari menyemai benih sendiri. Menurut pengamatan saya, keberhasilan menyemai benih bisa menjadi patokan untuk memperkirakan keberhasilannya nanti. Kalau petani bisa menyemai sendiri, biasanya dia bisa berkebun dengan hasil yang baik. Pada awalnya, cara yang saya terapkan tidak seperti itu. Saya menyemai benihnya lalu petani saya beri bibit siap tanam. Tapi rupanya cara ini membuat petani meremehkan dan menganggap berkebun pepaya Calina itu gampang, bisa sambil merem. Menurut saya, ini jebakan pertama di kalangan petani.

Kepada semua petani pepaya pemula, saya selalu mengatakan bahwa berkebun pepaya Calina itu tidak segampang menanam pepaya Thailand/Bangkok atau pepaya Jinggo, yang banyak ditanam di daerah saya. Kedua jenis pepaya ini mudah disemai, tidak butuh perawatan khusus, tahan kering, saat kemarau tidak perlu rajin disiram, tahan penyakit. Ibaratnya, petani cuma menanam, lalu ditinggal pergi ke Jakarta, waktu dia pulang Lebaran nanti pepaya sudah siap panen. Pepaya Calina tidak bisa diperlakukan seperti itu. Petani harus sabar dan telaten merawat. Ketelatenan ini pertama-tama dipelajari pada saat menyemai benih. Itu sebabnya petani saya ajari menyemai sendiri.

Saya mengamati, banyak petani pemula yang tergiur menanam pepaya Calina karena terbujuk oleh rayuan maut penjual bibit, bahwa dari lahan sekian, bisa dapat untung sekian juta. Namanya saja penjual bibit, mereka pasti ngomong yang indah-indah. Kalau mereka menunjukkan foto tanaman, pasti dipilih tananam yang paling bagus, kebun yang paling bagus, buah yang paling bagus. Entah foto tahun berapa, itu tidak penting. Yang penting kelihatan menggiurkan. Tidak mungkin mereka menceritakan kebun pepaya yang ludes terkena serangan Erwinia atau busuk batang. Mereka memang pedagang, jadi tidak salah melakukannya. Yang salah adalah petani yang mudah terbuai angin surga.

Berdasarkan pengamatan saya di kalangan petani pepaya pemula di daerah saya, petani yang gagal jumlahnya lebih banyak daripada yang berhasil. Sekali lagi, yang gagal lebih banyak daripada yang berhasil. Mereka yang gagal itu pada umumnya karena meremehkan dan menganggap berkebun pepaya Calina bisa dilakukan sambil merem. Sementara mereka yang berhasil itu pada umumnya karena anugerah alam. Kebetuan lahannya cocok, tidak gampang jamuran, hama serangga tidak ganas, airnya mudah.

Di daerah saya, sebagian besar lahan punya kelemahan untuk ditanami pepaya. Ada yang tanahnya bagus, tapi sumber air terbatas atau banyak serangganya. Ada yang lahannya punya air berlimpah, tapi tanah mudah berjamur saat musim hujan. Di lahan seperti ini, Pepaya Calina tidak mungkin bisa ditanam sambil merem.

Advertisements