Branjangan.jpg

Saya mencoba menanam pepaya di tiga jenis tanah yang berbeda. Pertama, tanah merah yang cenderung kering dan tidak bisa menyimpan air. Kedua, tanah liat sawah yang biasa digunakan untuk menanam padi dan jagung. Ketiga, tanah yang oleh orang desa saya disebut tanah “branjangan”. Tanah jenis ini sifatnya di tengah-tengah antara tanah merah dan tanah sawah.

Ketiga jenis tanah ini sama-sama bisa ditanami pepaya dengan hasil yang baik. Tapi yang hasilnya paling menguntungkan, menurut pengamatan saya, adalah tanah branjangan. Masing-masing jenis tanah punya kelebihan dan kekurangan.

  1. Tanah merah

Di daerah saya, tanah merah merupakan lapisan atas batu-batu bebukitan. Lapisan tanah ini tebalnya hanya beberapa belas hingga beberapa puluh sentimeter. Kalau digali, bagian bawahnya berupa batu-batu pejal yang bisa merusak mata cangkul. Tanah jenis ini nyaris tidak bisa menyimpan air. Hujan sederas apa pun tidak akan menimbulkan genangan karena air akan langsung surut diserap bumi. Enaknya, pepaya bisa ditanam langsung di lahan. Tanah tidak usah digulud.

 

Walaupun ketebalannya hanya beberapa belas hingga beberapa puluh sentimeter, tanah jenis ini masih bisa ditanami pepaya. Kelebihannya, pada musim penghujan kita tak perlu khawatir peyakit busuk akar karena lahan seratus persen bebas banjir walau hujan sederas apa pun. Kekurangannya, kalau tidak tersiram air seminggu saja, lahan menjadi sangat kering.  Tidak hujan seminggu saja, tanah sudah sangat kering, apalagi di musim kemarau yang tidak hujan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Saking keringnya tanah merah, pada musim kemarau rumput pun tidak bisa hidup.

 

Padahal, pepaya, dalam ha ini pepaya Calina, termasuk jenis tanaman yang sangat boros air. Kalau tanah terlalu kering, bunga pepaya bisa rontok. Maka sebelum menanam pepaya di lahan seperti ini, pastikan dahulu ada suplai air yang berlimpah. Di musim kemarau, pepaya harus disiram setiap hari. Untuk memudahkan penyiraman, kita bisa membuat instalasi selang PVC. Jika bisa, tiap satu pohon harus disiram air paling tidak 50 liter sehari! Kalau di sekitar lahan tidak ada sumber air yang berlimpah, sebaiknya mencari lahan lain untuk menanam pepaya.

 

Kalau tanaman kurang air, buah akan kecil-kecil. Tapi kelebihan lahan semacam ini, buah pepaya menjadi sangat manis dan warna dagingnya jingga pekat. Berdasarkan pengamatan saya, buah dari kebun di tanah merah rasanya paling manis jika dibandingkan dengan kebun di tanah liat. Apalagi jika lahan berada di dpl (ketinggian di atas permukaan laut) yang rendah seperti di lahan saya yang hanya sekitar 10 meter di atas permukaan laut. Ini sifat umum tanaman pepaya. Makin tinggi daerahnya, ukuran buah makin besar, tapi rasa manisnya makin berkurang. Makin rendah daerahnya, ukuran buah makin kecil, tapi rasa makin manis. Ini hanya sifat umum, tanpa memperhitungkan pemupukan dan perawatan.

 

Kelebihan lain tanah merah adalah sifatnya yang mudah gembur jika terkena air. Makanya tanah jenis ini sangat cocok digunakan untuk pembibitan pepaya Calina yang terkenal susah disemai.

 

  1. Tanah sawah

Kebanyakan tanah pertanian di daerah saya termasuk jenis tanah ini. Tanah jenis ini sangat mudah menyimpan air. Karena itu mudah banjir dan mudah digenangi. Ini harus diperhatikan betul sebelum menanam pepaya. Tanah harus digulud. Lebar guludan sekitar 1,5 meter. Pada musim hujan, pastikan tanah tidak tergenang di antara guludan. Sehari saja air tergenang saat hujan, akar pepaya bisa membusuk pelan-pelan.

 

Kelebihannya, tanah jenis ini bisa menyimpan air. Jadi penyiraman tidak perlu terlalu sering. Walaupun tidak turun hujan dua minggu, tanah masih berair. Penyiraman saat kemarau pun mudah. Air dari sungai cukup dipompa sampai menggenangi lahan lalu dibiarkan terserap tanah. Tidak perlu memakai instalasi selang PVC seperti di tanah merah.

 

Kekurangannya, pada musim hujan tanah jenis ini rawan jamur. Karena itu, sekali lagi, guludan harus bisa memastikan tidak ada air tergenang saat turun hujan. Untuk pencegahan, pada awal musim hujan, lahan ditaburi dolomit (kapur pertanian). Kalau tak ada dolomit, kapur bangunan bisa jadi alternatif.

 

  1. Tanah branjangan

Berdasarkan pengamatan saya, ini jenis tanah yang paling cocok ditanami pepaya. Tanah jenis ini bisa menyimpan sedikit air, sehingga tanah tidak cepat kering. Tapi daya simpan airnya tidak setinggi tanah sawah sehingga tidak mudah kebanjiran dan tergenang. Sayangnya, mencari lahan dengan jenis tanah branjangan seperti ini tidak mudah.

 

Enaknya, pada musim kemarau, penyiramannya gampang. Air tinggal dipompa dan lahan digenangi air. Air bisa merata mengenai semua pohon tapi akan cepat surut. Tidak seperti tanah merah yang sangat sulit digenangi air sehingga praktis tidak bisa digenangi dengan pompa air.

 

Foto di atas adalah kebun di lahan branjangan. Lahan tidak perlu digulud karena walau hujan sekalipun tanahnya tidak tergenang air. Usia pohon enam bulan, difoto pada bulan Juli 2106. Masih mengandalkan anugerah alam, belum ada biaya perawatan sama sekali, baru menggunakan pupuk dasar kotoran kambing sekitar 3 kg per pohon, belum memakai pupuk kimia, masih tadah hujan, belum disiram dengan pompa.

 

Advertisements