Pemilik Blog

img_1701Ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya dan sebetulnya tidak perlu jawaban. Pengunjung hanya perlu membaca blog lebih cermat saja. Misalnya:

1. “Lokasi di mana?”

Di postingan, sudah saya tuliskan. Hanya perlu lebih cermat membacanya. Tapi, baiklah, saya ulangi lagi, posisi saya di Brondong, Lamongan.

2. “Bagaimana caranya ikut kemitraan?”

Di postingan, sudah saya jelaskan. Tapi baiklah, saya ulangi sekali lagi, kemitraan saya hanya untuk petani kecil di sekitar lokasi saya saja. Cerita saya BUKAN undangan kemitraan, melainkan hanya sharing buat petani pepaya pemula. Saya bukan tengkulak. Hanya petani kecil yang menanam dan menjual sendiri hasil kebunnya di toko kaki lima.

3. “Apakah saya terkait dengan program-program kemitraan yang ada di sekitar Lamongan?”

TIDAK. Saya belajar menanam kates secara otodidak, baru 1,5 tahun belakangan. Saya sama sekali tidak terkait dengan mereka. Saya memang mendengar info ada kemitraan kates di sekitar Lamongan. Tapi saya sendiri menganggap itu bukan kemitraan yang sejati sebab model kemitraannya lebih menguntungkan buat bandarnya, bukan petaninya. Kalau bibit harus beli, pupuk harus beli, obat harus beli, lalu ketika panennya bagus si petani harus menjual ke bandar dengan harga pasar, kalau panennya jelek maka si bandar tidak mau bertanggung jawab; bagi saya itu bukan kemitraan tapi perjanjian jual beli. Sebab si bandar hanya mau berbagi keuntungan dan tidak mau berbagi kerugian sama sekali.

4. “Apakah kebun saya organik?”

BELUM. Saya memang masih bereksperimen dengan perkebunan organik tapi hasilnya belum memuaskan. Kalau sekadar menanam beberapa batang di pekarangan rumah, cara organik mudah diterapkan. Tapi kalau skala kebun, tampaknya masih cukup sulit. Faktor utama adalah karena pepaya mudah kena penyakit yang sulit diatasi dengan cara organik dan masih harus menggunakan pestisida. Faktor kedua, konsumen pasar tradisional masih belum bisa menghargai kualitas organik. Bagi mereka, harga murah lebih penting. Tapi kalau sampeyan berminat mengembangkan kebun pepaya organik dan tidak keberatan dengan biaya yang sedikit lebih tinggi, saya bisa memberi masukan.

5. “Apakah orang Lamongan bisa ikut kemitraan?”

Kalau rumah sampeyan jaraknya hanya beberapa belas menit naik motor santai dari rumah saya, mari bermitra. Tapi saya harus jujur, tidak semua jenis lahan cocok ditanami pepaya sebab pepaya tidak suka tanah yang terlalu kering atau terlalu basah. Sebetulnya pepaya tetap bisa ditanam di tanah yang sangat kering atau sangat basah tapi biaya produksinya jadi tinggi.

Kalau rumah sampeyan di Lamongan tapi lokasinya jauh dari rumah saya, dan sampeyan ingin berkebun pepaya skala kecil, saya tetap bisa membantu tanpa ikatan apa-apa. Saya bisa mengajari cara berkebun pepaya dan membantu menjualkan hasil panennya ke pedagang kecil di yang bersedia bermitra. Sekali lagi, saya bukan tengkulak kates. Menurut saya, kemitraan antara petani kecil dan pedagang kecil jauh lebih bermanfaat daripada kemitraan antara tengkulak besar dan tuan tanah. Bagi pedagang kecil, laba beberapa puluh ribu rupiah sudah sangat berarti.

6. “Berapa harga pepaya saya?”

Mohon maaf, saya bukan supplier atau pengepul pepaya. Saya petani mandiri yang menanam pepaya dan menjualnya sendiri langsung ke konsumen. Tapi kalau misalnya sampeyan berminat menjadi mitra jangka panjang bersama petani, saya siap membantu. Untung rugi ditanggung bersama dengan sistem bagi hasil. Jika berminat, silakan main ke kebun kami.

7. “Apakah boleh berkonsultasi ke saya?”
Saya bukan konsultan. Juga bukan ahli pertanian. Ilmu saya hanya sebatas yang saya tulis. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan tetang problem kebun pepaya yg tidak pernah saya alami sendiri. Saya hanya bisa membahas problem yg pernah terjadi pada kebun saya, berdasarkan pengalaman saya. Mungkin saja penjelasan saya keliru.